September 24th, 2008 by fuzna
Ternyata aku belum selesai belajar tentang cinta.
Aku benar-benar belum memahaminya.
Ketika ku resah bertanya,
”Mengapa selama ini aku tak pernah cemburu?”
Kurelakan kau berjalan kemanapun kau menuju
Kuikhlaskan kau lakukan apapun yang kau mau
Kupegang hatiku dan bertanya,
”Apakah itu artinya aku tak pernah mencintaimu ?”
Bertahun-tahun aku mencari jawaban,
Ternyata…
”Aku tak cemburu karena ku sangat mempercayaimu”.
Ternyata aku belum selesai belajar tentang cinta.
Aku benar-benar belum memahaminya.
Ketika ku resah bertanya,
”Mengapa cintaku seperti tak berasa?”
Tak ada sakit hati karena rindu tak terpenuhi
Tak ada penantian panjang menunggumu datang
Kupegang hatiku dan bertanya,
”Apakah itu artinya aku tak pernah mencintaimu ?”
Berjalan jauh aku mencari jawaban,
Ternyata…
”Aku tak merasa justru karena terlalu menikmatinya”
Kau terlampau baik…
Kau sempurnakan cintamu untukku
Aku tak cemburu, karena kau tak sediakan ruang itu
Aku tak sakit hati, karena belaianmu tak berhenti
Aku tak menunggu, karena kau selalu di sisiku.
Ternyata aku belum selesai belajar tentang cinta.
Aku benar-benar belum memahaminya.
(Jangan khawatir, Mas…
Aku terus mempelajarinya.
Bimbing aku yaaa…)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
September 24th, 2008 by fuzna
Aku Padamu,
Adalah cinta yang kusengaja
Sebab ku telah memilihmu
Untuk bersama menjalani taqdirNYA
Aku padamu
Adalah asmara yang kusengaja
Sebab kau yang mengetuk pintu
Ketika yang lain tak melakukannya
Aku padamu
Adalah kasih yang kusengaja
Sebab kau tak pernah berhenti menguntai doa
Di setiap jalan yang kita tapaki berdua
Aku padamu
Adalah pelayanan
Adalah pengabdian
Suatu saat nanti
Ketika ku tak muda lagi
Kumohon hiasi hidupmu
Dengan cinta, asmara dan kasih
Yang kau berikan
Dengan sengaja…
Posted in Uncategorized | No Comments »
September 24th, 2008 by fuzna
Mas,
Mohon pengertianmu ketika aku terlalu merindukanmu
Kuminta kesediaanmu mendengar lirik cintaku
Aku hanya ingin kau tahu
Betapa besarnya asmaraku
(Aku tak mampu menanggungnya sendiri.
Dan kau mengatakan, “Aku bahagia menanggungnya bersamamu”).
Mas,
Mohon pengertianmu ketika aku terlalu mengkhawatirkanmu
Kuminta kesediaanmu mengirim pesan untukku
Aku hanya ingin kau tahu
Betapa berartinya kau bagiku
(Aku bertanya tentang kebersamaan kita
Dan kau menjawab, “Cinta kita akan bertahan selamanya”).
Mas,
Aku hanya ingin kita menyatu
Kau-pun mengatakan, “Aku akan selalu memeluk dan tak akan melepaskanmu”.
Posted in Uncategorized | No Comments »
September 24th, 2008 by fuzna
Asmaraku telah dibuktikan oleh waktu
Segala penantian telah ditunjukkan dalam perjalanan
Dan ketika Tuhan menjawab doa
Maka kita benar-benar menyatu dalam cinta
Kini tulus hatimu mengajakku mendaki
Dalam sebuah gunung cinta tertinggi
Yang puncaknya menembus awan
Tempat malaikat dan bidadari berkawan
Kitapun menyanyi
Dan bayangan serta angan kita menari-nari
Tetaplah aku jadi semangatmu
Sebab hadirmu adalah energiku
Tetaplah aku membuatmu tentram
Sebab dalam hatimu cintaku bersemayam
Kita masih akan terus menyanyi
Dan harapan kita tak berhenti menari
Mas,
Kita telah mencapai puncak cinta tertinggi
Maka jangan pernah lepas aku
Sebab jika kau berhenti memelukku
Aku akan terbanting sepanjang tebing
Lalu mati…
Tak akan pernah hidup lagi.
Kalau aku mati,
Kapan kita akan menyanyi lagi ?
Sambil melihat anak-anak kita menari ?
(Mas, kita pernah berjanji…
Di masa tua kita nanti,
Kita akan bergandengan tangan jalan pagi
Lalu kau mengantarku belanja
Sesampai di rumah, aku akan menyiapkan sarapan
Sementara kau baca koran di teras depan
Kita menunggu telpon dari anak-anak kita
Mengabarkan bahagia
Kita akan menikmati hari itu, kan ?)
Posted in Uncategorized | No Comments »
December 27th, 2007 by fuzna
Sepasang kakek-nenek berbelanja di sebuah toko suvenir untuk mencari
hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir
yang cantik.
"Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya.
"Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang tersebut berbicara "Terima kasih perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. ‘Stop ! Stop !’, Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata ‘Belum !’ , lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. ‘Stop! Stop !’, teriakku lagi. Tapi orang itu
masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. ‘Panas ! Panas !’’, Teriakku dengan keras. ‘Stop ! Cukup ! ‘, Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata ‘belum !’, akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. ‘Stop ! Stop !’’ Aku berteriak. Wanita itu berkata ‘Belum !’ Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya!
’Tolong! Hentikan penyiksaan ini !’, Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang itu tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas
‘menyiksaku!’, kemudian aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu, menjadi sirna tatkala kulihat diriku”.
Cerita tentang cangkir yang cantik ini, membuat kita harus merenung :
* Apabila kita jatuh ke dalam berbagai cobaan, anggaplah sebagai berkah, sebab kita tahu bahwa ujian terhadap kita, akan menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kita menjadi sempurna dan utuh serta tak kekurangan suatu apapun.
* Apabila kita sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena ALLOH SWT sedang membentuk kita. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, kita akan melihat betapa cantiknya ALLOH SWT membentuk kita.
Subhanalloh… ALLOH Bless Us Forever
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
December 26th, 2007 by fuzna
Ada yang menggelitik ketika saya mendengar dialog Nagabonar dan Monita dalam film Nagabonar Jadi 2. Waktu Nagabonar bertanya, mengapa Monita jatuh cinta pada Bonaga, Monita menjawab, “Bonaga tampan, pintar dan kaya. Itu sudah jadi cukup alasan bagi perempuan manapun untuk jatuh cinta”.
Mendengar jawaban Monita itu, mungkin sebagian besar dari kita akan meng’amin’i… Mendukung seratus persen. Ya, siapa sih yang tidak akan jatuh cinta pada pemuda yang tampan, pintar dan kaya ?
Tapi Nagabonar berpendapat lain. Dia segera memperlihatkan foto Kirana, almarhumah istrinya yang cantik. Nagabobar bilang bahwa dia jelek, bodoh dan miskin. Tapi mengapa Kirana yang cantik dan anak dokter itu bisa jatuh cinta padanya ?
Monita agak kebingungan menjawab, tapi akhirnya dia bilang bahwa mungkin alasan jatuh cinta di setiap jaman, berbeda.
Benarkah ?
Benarkah begitu ?
Saya kok masih berprinsip bahwa
:
Cinta tak membutuhkan alasan
Cinta tidak diawali kalimat :
Karena ini maka…
Karena itu maka…
Cinta itu diterima rasa
Dan rasa tak menghiraukan kriteria
Apa jadinya bila cinta sudah dipenuhi dengan prasyarat ?
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
December 17th, 2007 by fuzna
Cinta tak membutuhkan alasan
Cinta tidak diawali kalimat :
Karena ini maka…
Karena itu maka…
Cinta itu diterima rasa
Dan rasa tak menghiraukan kriteria
(Jawaban untuk yang bertanya, mengapa aku bahagia bersamanya…)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
December 4th, 2007 by fuzna
Bagaimana kau melindungi hatimu ?
Sepertinya kau tak pernah terluka
Bagaimana kau mengamankan rasamu
Kasihmu selalu tahan terhadap benturan
tak pernahkah kau menerima pelajaran tentang sakit hati dan balas dendam ?
Mengapa di rapot-mu hanya ada nilai tentang cinta dan pengertian ?
Terima kasih Ya Rahman…
Dengan kau aku telah DIA sandingkan.
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 26th, 2007 by fuzna
Kalau orang yang lumpuh tak pernah mengeluh
Mengapa aku kesal ketika kakiku pegal ?
Kalau para penganggur tak pernah putus asa berusaha
Mengapa aku tak bersyukur karena ALLOH memberiku kesempatan bekerja ?
Jangan lupa,
Ketika kita lunglai kelelahan pada waktu sore
karena bekerja keras seharian
Maka kita akan mendapati sore hari itu,
dosa-dosa kita diampuni.
Subhanalloh…
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 22nd, 2007 by fuzna
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu - malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. "Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap. Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut.
"Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."
"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.
Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.
(Compiled by Zidna Humaam Kurnia)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »